BANYAK kondisi yang dapat menyebabkan stroke, seperti pengerasan arteri atau lebih dikenal dengan arteriosklerosis. Pemicunya adalah stress, pola makan tinggi lemak, dan kurang berolahraga. Namun sebenarnya ketiga faktor tersebut tergolong risiko yang dapat dikendalikan. Secara umum faktor risiko stroke dibagi dua:

1.Faktor Risiko Tidak Terkendali
Faktor risiko tidak terkendali yakni meliputi: usia, jenis kelamin, garis keturunan, dan ras (etnik) tertentu.
• Usia
Semakin bertambah usia, semakin tinggi risiko untuk mendapat kan serangan stroke. Setelah berusia 55 tahun, risiko stroke berlipat ganda. Dua per tiga serangan stroke terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun. Tetapi tidak berarti hanya pada orang lanjut usia, stroke dapat menyerang semua kelompok umur.
• Jenis kelamin
Pria lebih berisiko terkena stroke dari pada wanita. Tetapi penelitian menyimpulkan bahwa lebih banyak wanita yang meninggal karena stroke. Risiko stroke pria 1,25 lebih tinggi dan pada wanita. Tetapi serangan stroke pada pria terjadi di usia lebih muda sehingga tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi. Sementara, wanita lebih berpotensi terserang stroke pada usia lanjut hingga kemungkinan meninggal karena penyakit itu lebih besar.
• Keturuan, sejarah stroke dalam keluarga
Stroke juga terkait dengan keturunan. Faktor genetik yang sangat berperan antara lain adalah tekanan darah tinggi, penyakit jantung diabetes dan cacat pada bentuk pembuluh darah. gaya dan pola hidup keluarga dapat mendukung risiko stroke. Cacat pada bentuk pembuluh darah (cadasil) mungkin merupakan faktor genetik yang paling berpengaruh dibandingkan faktor risiko stroke lainnya.

2. Faktor Risiko Terkendali
Adapula faktor risiko yang sebenarnya dapat disembuhkan dengan bantuan obat-obatan atau perubahan hidup. Beberapa faktor risiko tersebut, antara lain:
• Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan pengerasan dan penyumbatan arteri. Penderita hipertensi memiliki faktor risiko stroke empat hingga enam kali lipat dibandingkan orang yang bebas hipertensi. Sekitar 40-90% pendetia stroke ternyata mengidap hipertensi sebelum terkena stroke.
Secara medis, tekanan darah di atas 140-90 tergolong dalam penyakit hipertensi. Oleh karena dampak hipertensi pada keseluruhan risiko stroke menurun seiring dengan pertambahan umur. Pada orang berusia lanjut, faktor lain di luar hipertensi berperan lebih besar terhadap risiko stroke. Pada seorang yang tidak menderita hipertensi, risiko stroke meningkat terus hingga usia 90, menyamai risiko stroke pada seorang yang menderita hipertensi.
Sejumlah penelitian menunjukkan, obat-obatan anti hipertensi dapat mengurangi risiko stroke sebesar 38% dan pengurangan angka kematian akibat stroke sebesar 40%.
• Penyakit jantung
Faktor risiko berikutnya adalah penyakit jantung (terutama, atrial fibrilation) yakni penyakit jantung dengan denyut tidak teratur di bilik kiri atas. Denyut jantung di atrium kiri mencapai empat kali lebih cepat dibandingkan di bagian-bagian jantung lainnya. Ini akan menyebabkan aliran darah menjadi tidak teratur dan secara insidental membentuk gumpalan darah. Gumpalan gumpalan yang kemudian mencapai otak menyebabkan stroke. Pada seorang yang berusia di atas 80 tahun, atrial fibrilation merupakan penyebab utama kematian pada 1 dan 4 penderita stroke.

Penyakit jantung lainnya adalah cacat pada bentuk katup jantung (mitral valve stenosis) atau (mitral valve calcification). Juga cacat pada bentuk otot jantung, misal: PFO (patent foramen ovale) atau lubang pada dinding jantung yang memisalkan kedua bilik atas. Secara alami, gumpalan dalam darah biasanya disaring dalam paru-paru. Karena berlubang, dinding jantung yang dapat meloloskan gumpalan darah tidak melalui paru-paru, melainkan langsung ke pembuluh otak tersebut dapat menyebabkan stroke. Cacat katup jantung lainnya adalah ASA (atrial septal aneurysm) atau cacat bentuk kongenital (sejak lahir) pada jaringan jantung, yakni penggelembungan dinding jantung ke arah salah satu biliknya. PFO dan ASA yang sering terjadi bersamaan itu mampu meningkatkan risiko stroke.
Masih terdapat dua cacat bentuk jantung yang nampak memerbesar risiko stroke tanpa penyebab kentara. Pertama, pembesaran atrial kiri bilik jantung kiri menyebabkan irama jantung menjadi pincang. Ventricular hypertrophy di bagian kiri, di mana dinding kamar jantung kiri yang lebih tebal tersebut menyebabkan pemompaan darah kurang elastis.
Faktor lain dapat terjadi pada pelaksanaan operasi jantung yang berupaya memerbaiki cacat bentuk jantung. Tanpa diduga, plak yang dapat terlepas dan dinding aorta (batang nadi jantung) tersebut hanyut mengikuti aliran darah ke leher dan otak yang kemudian menyebabkan stroke.
• Diabetes
Penderita diabetes memiliki risiko tiga kali lipat terkena stroke dan mencapai tingkat tertinggi pada usia 50-60 tahun. Setelah itu, risiko tersebut akan menurun. Namun terdapat faktor penyebab lain yang dapat memerbesar risiko stroke. Karena umumnya, sekitar 40% penderita diabetes juga mengidap hipertensi.
• Kadar kolesterol darah
Penelitian menunjukkan, makanan kaya lemak jenuh dan kolesterol seperti daging, telur, dan produk susu dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh dan berpengaruh pada risiko aterosklerosis dan penebalan pembuluh. Kadar kolesterol di bawah 200 mg/dl dianggap aman, sedangkan di atas 240 mg/dl sudah berbahaya dan menempatkan seorang pada risiko terkena penyakit jantung dan stroke.
Memerbaiki tingkat kolesterol dengan menu makan sehat dan olahraga teratur dapat menurunkan risiko aterosklerosis dan stroke. Dalam kasus tertentu, dokter dapat memberikan obat penurun kolesterol.
• Merokok
Merokok merupakan faktor risiko stroke yang sebenarnya paling mudah diubah. Perokok berat menghadapi risiko lebih besar dibandingkan perokok ringan. Terlepas dan faktor risiko yang lain, merokok mampu melipat-ganda risiko stroke iskemik dan meningkatkan risiko subaraknoid hemoragik hingga 3,5% Merokok adalah penyebab nyata penyakit stroke yang banyak terjadi pada usia dewasa ketimbang tengah baya atau lebih tua. Sesungguhnya risiko stroke dapat menurun seketika, setelah berhenti merokok dalam periode 2-4 tahun. Perlu diketahui, merokok memicu produksi fibrinogen (faktor penggumpal darah) yang merangsang timbulnya aterosklerosis.
Pada penderita karena merokok, kerusakan akibat stroke jauh lebih parah. Karena dinding bagian dalam (endothelial) pada sistem pembuluh darah otak (serebrovaskular) biasanya telah melemah. Hal mi menyebabkan kerusakan lebih besar pada otak saat menapaki tahapan stroke kedua.
• Alkohol berlebihan
Secara umum, meningkatnya konsuniii alkohol selalu disertai dengan meningkatnya tekanan darah yang mengarah pada peningkatan risiko stroke iskemik dan hemoragik. Konsumsi alkohol yang tidak berlebihan dapat mengurangi daya penggumpalan platelet dalam darah, seperti halnya asnirin. Dengan demikian, konsumsi alkohol yang cukup justru dianggap dapat melindungi tubuh dan bahaya stroke iskemik.
The New England Journal of Medicine (edisi 18 November 2000) melaporkan: “Physicians Health Study telah memantau, bahwa 22.000 pria yang selama 12 tahun mengonsumsi alkohol sekali sehari terbukti mengalami penurunan risiko stroke.” Klaus Berger M.D. (Brigham and Women’s Hospital, Boston) pula menemukan manfaat alkohol bila dikonsumsi seminggu sekali. Akan tetapi realitasnya, disiplin penggunaan manfaat alkohol dalam konsumsi sangat sulit dikendalikan dan efek sampingnya justru lebih berbahaya.
Penelitian lain pula menyimpulkan: “Dengan mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat memengaruhi jumlah platelet yang mengarah pada kekentalan dan penggumpalan darah. Alhasil, hal ini akan menyebabkan pendarahan di otak dan meningkatkan risiko stroke iskemik.”
• Obat-obatan terlarang
Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan senyawa olahannya dapat menyebabkan stroke, di sampingg memicu faktor risiko lain seperti hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah. Kokain juga meyebabkan gangguan atau memercepat denyut jantung (arrythmias). Obat-obatan tersebut menyebabkan pembentukan gumpalan darah. Diakui bahwa marijuana mampu mengurangi tekanan darah dan apabila berinteraksi dengan faktor risiko lain, seperti hipertensi dan merokok, akan menyebabkan tekanan darah naik turun dengan cepat. Keadaan ini berpotensi merusak pembuluh darah.
• Cedera kepala dan leher
Cedera pada kepala dapat menyebabkan pendarahan di dalam otak. Kerusakannya pun sama seperti pada stroke hemoragik. Cedera pada leher, apabila terkait dengan robeknya tulang punggung atau pembuluh carotid – akibat peregangan atau pemutaran leher secara berlebihan atau karena tekanan pada pembuluh merupakan penyebab stroke yang cukup signifikan, terutama pada seorang berusia muda.
• Infeksi
Infeksi virus dan bakteri yang dapat bergabung dengan faktor risiko lain tersebut memicu terjadinya stroke. Secara alamiah, sistem kekebalan tubuh biasanya melakukan perlawanan terhadap infeksi yang meningkatkan peradangan dan menangkal infeksi pada darah. Sayangnya, reaksi kekebalan ini meningkatkan faktor penggumpalan darah yang justru memicu risiko stroke embolik-iskemik.

Barangkali saat ini anda mencari obat stroke herbal yang tidak ada efek samping karena ada kemungkinan kalau menggunakan obat kimia lama-lama ginjal akan rusak oleh sebab itu marilah kita beralih ke pengobatan herbal, untuk informasi obat herbal stroke klik di obat stroke